Tampilkan postingan dengan label Igauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Igauan. Tampilkan semua postingan

Asa Milik Cakrawala

“Cakra..Cakra..”

Samar-samar suara tersebut bergaung di pikiranku.

“Cakra..bangun nak. Nanti kita telat.”

Tegas suara wanita itu terdengar, mendorongku untuk segera bangkit dari tempat tidur.

Aku terduduk seakan masih mengumpulkan nyawa. Kugosokkan kedua mataku dengan sedikit tekanan agar kantuk ini segera terusir. Jam weker di atas meja kerja kayu di seberang ruangan masih menunjukkan pukul lima pagi.

Masih pagi. Tapi itu menjadi sentakan bagiku karena hari ini aku teringat bahwa kami memang harus bangun sepagi ini. Pesawat kami akan take-off pukul setengah sembilan, dan jarak dari rumah ke bandara bisa memakan waktu dua jam sendiri.

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian aku sudah beranjak dari tempat tidurku, merapikan rambut sebentar, mengambil wudhu, sholat subuh, dan selesai mandi. Koperku sudah siap di ujung ruangan. Kami sudah siap bepergian hari ini, mengunjungi sanak saudara kami di Palembang.

Di ruang tamu kulihat ibu, dan adikku juga sudah siap dengan bawaannya masing-masing. Mereka tampak sibuk.
“Naikkan tas kamu ke bagasi sekarang. Itu taxi nya di depan sudah datang”. Perintah ayah kepadaku.

Bawaanku sebenarnya tidak banyak, hanya satu ransel berukuran sedang. Itu karena kami hanya akan bepergian selama tiga hari saja, jadi kurasa tidak perlu membawa terlalu banyak keperluan. Tanpa banyak bicara kumasukkan tasku ke dalam bagasi, dan kududukan diriku di kursi paling depan Tidak sampai lima menit kemudian kami semua sudah naik—kecuali ayahku. Dia memang tidak bisa ikut karena ada pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Tak berapa lama kemudian ibuku memerintahkan pak supir untuk jalan. Dia melambaikan tangan salam perpisahan kepada ayahku yang berjaga di depan pagar.

“Mah, kita kan masih dua jam lagi. Bagi roti nya dong”. Sahut adikku kepada ibu.

Ibu ku mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Roti isi coklat.

“Cakra juga mau mah”. Aku tak mau kalah. Bangun sepagi ini sangat memicu perut untuk segera diisi. Adikku pun juga sepertinya kelaparan. Tanpa banyak bicara sudah dua tangkup roti mantap dalam genggamannya.

Sepanjang jalan aku tak banyak bicara, kantuk masih sangat terasa di mata. Begitupun dengan adikku. Dia lebih banyak tenggelam dengan smartphone nya. Sedangkan ibuku daritadi berceloteh tentang kabar terkini sanak saudara kami di Palembang, dan juga membahas tentang rencana perjalanan disana. Aku tidak terlalu tertarik, bagiku bisa jalan-jalan saja sudah menyenangkan.

Aku termenung sepanjang jalan. Menikmati jalanan Jakarta sepagi ini—dan tanpa kemacetan—benar-benar menyenangkan. Mungkin kalau selancar ini kami bisa lebih cepat setengah jam sampai di bandara. Tanpa terasa kelengangan jalan ini mulai membuaiku. Aku pun tertidur.

***
Pukul setengah delapan kami sudah berada di ruang tunggu terminal dua. Suasana bandara cukup sibuk. Terlihat beberapa orang berpakaian pilot dan pramugari lalu lalang di sekitar ruangan. Entah mereka akan segera terbang, atau baru mendarat.

Aku mengecek smartphone ku untuk sekedar menghabiskan waktu. Beberapa berita di media sosial tidak menunjukkan sesuatu yang menarik. Ku-scroll timeline ku dengan bosan. Sampai tanpa sadar ada satu berita yang menggeletikku.

“Mah, liat deh”. Kusodorkan smartphone ku kepada ibu. Dia membetulkan kacamatanya untuk membuatnya bisa lebih fokus membaca.


“Apa ini akan baik-baik saja, mah?”

“In shaa Allah, nak. Mama rasa sih ga akan kenapa-kenapa. Cuaca buruk itu kan biasa. Kita berdoa aja sama Allah SWT supaya aman sampai Palembang.” Ibuku tersenyum mencoba menenangkan.

Well, walaupun begitu tetap saja ada sedikit kegelisahan tersisa di hatiku. Aku memang tahu bahwa perjalanan dengan pesawat adalah yang teraman di dunia dibanding dengan menggunakan moda transportasi lain. Tetapi aku paling takut dengan turbulensi, dan membayangkan kemungkinan bahwa kita bisa jatuh dari ketinggian puluhan ribu kaki—yang apabila itu terjadi—sungguh adalah kematian yang tak terhindarkan.

Aku memalingkan pandanganku ke jendela ruang tunggu. Tampak mendung mulai memenuhi cakrawala di langit sebelah barat.

Kualihkan perhatianku pada adikku, dia masih belum beranjak dari smartphone nya. Selang beberapa detik kemudian sepertinya dia sadar sedang kuperhatikan.

“Kenapa, kak?” tanya nya.

Kusunggingkan senyum tipis, sepertinya ini hanya pikiranku saja yang berlebihan.

***
Perjalanan menuju Bandara Sultan Badaruddin II memakan waktu satu jam sepuluh menit. Saat ini kami sudah sekitar 35 menit di udara. Cuaca di luar benar-benar gelap tak terkira, padahal masih pagi. Awan pekat menyelimuti angkara. Turbulensi telah beberapa kali terjadi, dan pilot pesawat sudah dua kali kali menghimbau kami agar tetap berada di kursi dan menegakkan sandaran.

Kupandangi keadaan sekeliling kabin. Suasana tampak tenang. Entah mereka benar-benar tenang atau sekedar diam dalam cemas. Ibuku juga nampak tenang namun terlihat waspada. Dia terlihat sedang berkomat-kamit, mungkin sedang membaca ayat-ayat suci. Adikku di kursi samping seberang lorong jalan juga nampak tenang, dia sedang mendengarkan lagu.

Turbulensi cukup kencang kembali terjadi. Terasa pesawat sepertinya terdorong ke bawah beberapa meter. Aku terbengong cukup lama. Aku tidak menyukai suasana mencekam ini. Komat-kamit ibuku terdengar makin keras. Adikku terlihat memejamkan mata, dia nampak sangat tegang.

Selang beberapa detik kemudian, dari jendela kabin nampak kilatan cahaya menyambar sayap pesawat sebelah kanan. Suara dentuman sekencang bom terdengar. Teriakan penumpang memenuhi kabin. Mengerikan. Sedetik kemudian tiba-tiba kabin menjadi gelap. Pesawat terasa merosot turun menyusuri atmosfer dengan cepat. Sayup-sayup terdengar pengumuman dari pilot pesawat meminta penumpang untuk mengenakan rompi pengaman. Sepertinya dia akan mencoba melakukan pendaratan darurat di Selat Sunda.

Kugapai benda kuning itu di kolong kursiku. Dengan payah kucoba kenakan di tubuh. Agak sulit dalam keadaan panik seperti ini. Lalu beberapa detik kemudian terasa pesawat menghantam sesuatu yang keras di bawah, mungkin permukaan laut. Pada saat yang bersamaan tedengar dentuman kembali seperti bom, dan juga suara retakan badan pesawat yang menggetarkan tulang. Dan pandangan pun menjadi gelap pekat.

***
Seberkas sinar mentari yang menghangatkan membelai wajahku. Pelan-pelan kucoba untuk membuka mata. Sudah sore, pikirku. Mungkin saat ini pukul tiga. Tapi dimana aku berada sekarang? Aku merasa tidak seharusnya aku berada disini. Ingatan terakhir yang ku punya adalah bahwa aku sedang berada di dalam pesawat yang akan mengalami kecelakaan.

Kecelakaan pesawat.

Ya. Aku mengalami kecelakaan pesawat! Dan mendapati diriku masih selamat seperti ini sungguh merupakan keajaiban. Kusentuh tubuhku dari rambut sampai ujung kaki, tidak ada yang terasa sakit. Rompi keselamatan masih menempel di badanku. Aku merasa sangat bersyukur. Dan tiba-tiba aku teringat ibu dan adikku.

Dimana mereka?

Kupandangi tempatku berada sekarang. Aku mengambil posisi duduk agar dapat menelaah dengan jelas. Tampaknya aku sedang berada di sebuah gubuk tua. Entah ini milik siapa, mungkin warga sekitar lokasi jatuhnya pesawat yang bermurah hati.

Dipan tempatku tertidur juga nampak sudah lapuk, namun sangat nyaman. Di seberang dipan ada sebuah meja dengan ceret dan segelas teh coklat yang nampak hangat, manis, dan menggoda. Kucoba menjejakkan langkahku di tanah dan mendekati gelas teh tersebut.

Benar, memang masih hangat. Kuteguk teh tersebut dengan rasa syukur tiada tara.

Kuperhatikan kembali sekeliling gubuk tersebut. Kemana pemiliknya? Aku ingin sekali menanyakan tentang kecelakaan pesawat tersebut, para korban—termasuk keluargaku—dan mengapa aku bisa berada disini?

Tidak ada televisi maupun radio di gubuk ini. TIdak ada media apapun yang bisa kugunakan untuk mendapatkan informasi. Lalu kurogoh kantung celanaku, berharap menemukan smartphone ku disana. Memang ada, tetapi tidak bisa kunyalakan. Mungkin mati karena terkena garam dan air laut.

Kupandang keluar jendela gubuk dengan tatapan pasrah. Mencoba mempelajari keadaan sekitar. Seperti nya aku ada di tengah kebun. Samar-samar terdengar desir air laut di kejauhan. Pantai tidak jauh dari sini rupanya.

Aku mencoba memberanikan diri untuk melihat keadaan di luar. Kubawa diriku keluar, dan baru saja kakiku menjejakkan tanah di depan pintu, terdengar suara wanita dengan tegas berbicara kepadaku.

“Tidak ada yang perlu dicemaskan”. Katanya dengan suara parau.

Sesosok nenek tua muncul dari balik rimbunan pohon pisang. Tubuhnya bungkuk dan cukup renta. Dan dia nampak membawa sesuatu di punggungnya.

“Pisang nak. Sudah matang dan manis. Nah, sekarang kamu mau kemana?” Tanya nya tiba-tiba, mengabaikan paras keherananku setelah mendapatinya.

“Nenek yang punya gubuk ini?” Tanyaku polos.

“Ya dan tidak. Nenek memang menempatinya, tetapi semua milik Tuhan”.

Aku tidak mengerti dengan jawabannya. Tetapi ada yang jauh lebih penting untuk ditanyakan. Tentang kecelakaan itu.

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak karena telah menyelamatkan saya. Saya baru saja mengalami kecelakaan pesawat, dan..entah mengapa keajaiban sepertinya terjadi, saya tidak mengalami luka atau merasa sakit sedikitpun. Dan..dan..yah, saya tidak tau bagaimana nenek bisa menemukan saya. Lalu..bagaimana dengan korban yang lain, apa nenek tahu?” Cerocosku dengan membati buta.

“Pelan-pelan lah nak, jangan terburu-buru. Nanti kamu akan segera tahu. Dan kamu bilang tadi ‘pesawat’? Maksudmu burung besi yang mengerikan itu?”

Ah ya, orang tua yang tinggal jauh sendirian seperti dirinya mungkin tidak tahu mengenai pesawat atau kemajuan teknologi lainnya. Aku mengangguk dengan pelan untuk mengiyakannya, menghindari untuk mencoba memberikan penjelasan kepadanya tentang ‘pesawat’ karena kurasa pasti akan sia-sia.

“Nenek tidak tahu tentang yang lain nak. Yang nenek tahu cuma kamu. Beberapa jam lalu kamu tertidur di pantai pulau ini. Terlihat nyenyak sekali”. Jawabnya.

Jadi kemungkinan hanya aku yang selamat, gumamku.

“Lalu, sebenarnya ini dimana, nek?” Tanyaku polos.

“Ini? Entahlah. Sudah puluhan tahun nenek tinggal disini. Namun orang-orang menyebutnya Sebuku. Jadi anggap saja itulah namanya.”

Aku mengangguk mendengarkan penjelasannya. Sedikit terasa mengganjal di hatiku. Aku bersyukur aku selamat, namun aku ingin sekali mengetahui kabar keluargaku. Seketika aku berniat mencari penduduk lain, atau setidaknya orang lain di pulau ini yang bisa kutemui. Aku sangat membutuhkan informasi.

“Nenek tinggal sendiri disini?” Tanyaku lagi.

“Tidak, tentu saja tidak. Ada beberapa yang lain. Mungkin saja nanti kamu akan menemui mereka.”

“Dimana aku bisa menemui mereka, nek?”

“Nenek tidak ingat tempat tinggal mereka. Coba saja kamu berkeliling pulau ini, atau ke arah pantai apabila kamu mau mencoba peruntungan menemukan keramaian.” Jawabnya.

Pantai adalah ide bagus. Setidaknya pasti ada orang disana, atau mungkin wisatawan yang sedang snorkeling atau hanya sekedar bermain pasir. Dengan sedikit panduan arah dari nenek tersebut, hanya butuh waktu 15 menit saja aku bisa mencapai pantai. Sedang nenek itu lebih memilih tinggal di gubuk. Dia mempersilakanku untuk mengunjungi nya kembali nanti malam apabila butuh tempat tinggal.

***
Pantai ini indah. Pasir putih kekuningan, air laut yang dangkal dan bening menjadi tirai panorama yang menakjubkan. Seandainya ini liburan—alih-alih terdampar disini karena kecelakaan—pasti akan sangat menyenangkan sekali. Pikiran seperti itu mau tak mau memaksaku untuk semakin mengkhawatirkan tentang ibu dan adikku.



Dimanakah mereka?

Aku mencoba memandang sekeliling. Tidak ada siapa-siapa disini. Tidak mungkin.

Lalu aku memandang ke arah laut. Setitik perahu nampak di beberapa ratus meter di tengah laut.

Ada manusia!

“Heeeei Perahu! Kemarii! Toloooong!” Teriakku dengan senyaring-nyaringnya. Kutunggu beberapa detik, lalu kuteriakkan kembali teriakkan yang sama.

Tidak bergeming?

Kurasa mereka tidak bisa mendengarku. Tapi aku tidak peduli, aku terus berteriak.

***
TIga puluh menit yang sia-sia.

Entah karena teriakanku yang kurang pekak, atau tertutup debur ombak, atau memang mereka yang tidak mendengar, namun usahaku sia-sia. Dalam lelah aku pun terduduk di pasir pantai. Sedih dan khawatir bercampur menjadi satu tidak keruan. Mau menangis pun percuma, tidak ada yang peduli.

Aku merebahkan diriku. Terasa damai sekali. Matahari perlahan terasa mulai turun ke peraduannya. Suara burung laut menambah syahdu suasana. Aku merasa ingin tidur kembali dan mencoba melupakan semuanya untuk sejenak. Berharap saat terbangun nanti aku sudah berada di rumah. Bersama orang-orang tersayang.

Tetapi mana mungkin. Aku tidak mengantuk. Dan lagipula hari juga belum gelap. Akhirnya aku merasa cukup dengan memejamkan mata saja.

Damai sekali rasanya.

***
Mungkin ada sekitar sepuluh menit aku bertahan dengan posisi seperti itu. Rasanya seperti di surga. Aku merasa kembali bersemangat untuk mencoba mengais harapan kembali.

Kududukkan diriku di pantai. Belaian angin laut terasa tegas dan lembut menyentuh wajahku.

Beberapa menit kemudian aku mendengar deru perahu motor di kejauhan.

Ada harapan!

Tanpa berpikir panjang aku bangkit dan berlari menuju arah suara. Beberapa ratus meter di kejauhan. Aku berjalan cepat dengan sedikit terhambat pasir pantai. Pikirku, aku harus segera menemui mereka dan bertanya apapun tentang kecelakaan pesawat itu, dan juga tentang para korban yang lainnya!

Beberapa belas detik aku berjalan, aku sudah bisa melihat mereka. Kerumunan orang-orang yang terlihat tangguh dan memakai jaket oranye bertuliskan “BASARNAS”. Tim SAR telah datang! Entah bagaimana caranya, namun mereka bisa menemukanku!

Sekejap aku memicingkan mata dan memandang mereka dengan lebih teliti. Sepertinya aku mendapati sosok yang familiar. Ada ayahku di antara mereka! Kufokuskan mataku dengan harapan mendapat visi yang lebih jelas. Dan benar saja, itu memang ayahku. Aku menjadi semakin bersemangat untuk menemui mereka.

Dengan tertatih-tatih namun penuh semangat aku melanjutkan langkah-langkah ku yang penuh harap untuk menghampiri mereka. Senyum lebar tersungging di bibirku.

Namun tiba-tiba aku terjatuh tersandung karang yang entah darimana seperti muncul tiba-tiba dari dalam pasir.

Karang sialan! pikirku.

Posisi jatuhku rebah tertelungkup, jadi terasa cukup merepotkan untuk bangun kembali. Akan tetapi sebelum bangkit, aku mendapati ada selembar brosur wisata teronggok di depan mataku di tempat posisi ku jatuh saat ini. Mungkin milik wisatawan atau pengelola tur yang tertinggal. Dengan tanpa sengaja kucoba membaca apa yang tertulis disana.


Pulau Sebuku: Snorkel dan Pesona Wisata Pantai Pulau Tak Berpenghuni di Selat Sunda


Tak berpeghuni? Bagaimana mungkin? Lalu bagaimana dengan nenek tadi?

Tapi sudahlah.. Itu masalah lain yang bisa dituntaskan di kemudian hari. Yang paling penting sekarang adalah aku ingin sekali menemui ayahku. Mereka adalah penyelamatku saat ini. Dengan semangat penuh aku mencoba bangkit kembali.

Tetapi…hey! Sekujur tubuhku terasa kaku. Mana mungkin ada cedera yang muncul akibat tersandung tadi. Itu kan jatuh yang ringan.

Dengan penuh tenaga aku mencoba menggerakkan otot-ototku, tetapi sepertinya ini sia-sia. Entah mengapa tidak satu centi pun dari tubuhku bisa beranjak dari posisi rebahku saat ini.

Setelah mencoba sekian menit, aku akhirnya pasrah. TIdak ada gunanya melawan. Toh sebentar lagi tim SAR dan ayahku akan menghampiriku. Dari sini saja aku sudah bisa melihat orang-orang tersebut berjalan dengan mantap ke arahku. Melihat ayahku dalam keadaan seperti sekarang ini sudah sangat melegakan bagiku.

Akhirnya aku terselamatkan..

Selang beberapa menit kemudian mereka sudah mengerumuniku.

Ayahku berjongkok di hadapanku. Tangan hangatnya menyentuh pergelangan tangan dan keningku. Terasa damai dan syahdu sekali di batinku. Aku tak mampu berkata-kata apapun. Rasanya ingin menangis. Tangisan lega dan bahagia.

Sejenak kemudian kulihat dia tersenyum lalu berkata ke salah satu anggota tim SAR.

“Saya akan menghubungi istri saya untuk mengabarkan bahwa jenasah anak kami akhirnya telah ditemukan.”


***

Pekik Jiwa dari Dalam Sana

Wahai Gundah, pergilah.
Bawalah resah terkunci rapat.
Ke ruang yang jauh di tengah arungan kelumit pikiran yang tak akan pernah terjangkau.

Duhai Semangat, teruslah menetap.
Buang jauh-jauh prasangka tak menentu.
Ke tempat yang jauh dimana minda tak pernah terbersit untuk menengoknya kembali.

Otak dan tubuh ini telah mengerahkan sekuat-kuat nya daya.
Di tengah minimnya harapan dan apresiasi.
Percayalah karma tidak pernah berkhianat.
Ku harap atma ini masih mampu terus berpacu.
Karena tempat peristirahatan terbaik adalah nanti,
di surga sana.


Sikap Ekspresif Menjurus Exhibitionist


Source: http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/exhibitionist

Kalimat di atas saya rasa cukup mendeskripsikan dengan jelas apa itu exhibitionist. Suatu terminologi yang hampir jarang ada padanan kata nya dalam Bahasa Indonesia yang baku, setidaknya dengan ilmu bahasa saya yang amat dangkal.

Tapi sayangnya, tidak membutuhkan kecerdasan setingkat Tesla untuk dapat menerjemahkannya secara simpel ke dalam Bahasa Indonesia sehari-hari.
Mudahnya, jika kamu bertingkah berlebihan, bertindak berlebihan, berbuat berlebihan, dan melakukan sesuatu apapun secara berlebihan hingga menarik perhatian publik, tentu kamu telah menjadi manifestasi dari kata benda di atas.

Apakah menjadi exhibitionist adalah sesuatu yang buruk?

Oh tentu tidak sama sekali.

Hingga mencapai titik didih muak tertentu yang dapat ditolerir khalayak ramai, tindakan exhibitionist mungkin masih bisa dianggap sebagai sikap ekspresif yang menggambarkan perasaan hati seorang manusia.

Perasaan yang dimaksud tentu bisa bermacam-macam. Bisa mencakup kesenangan, kesedihan, kesepian, atau kegalauan karena sedang dalam proses mencari jati diri. Semuanya sama saja selama output yang ditimbulkan dapat menimbulkan outcome yang negatif di masyarakat. Sehingga sikap ekspresif telah dapat membuat sang pelaku dikategorikan sebagai seorang exhibitionist.

Sebenarnya ini adalah sesuatu yang lucu dan selalu dapat menjadi bahan olokan di lingkungan pergaulan. Sayangnya, pelaku exhibitionist juga seringkali tidak sadar bahwa perilakunya telah menjadi cibiran. Sehingga untuk tetap membiarkannya juga seakan-akan bagi kita hanya akan menimbun dosa, terlebih apabila kita kenal dengan sang pelaku.

Apakah ini bisa diobati?

Tenang saja, ini bukan penyakit akut. Ini hanya sikap ekpresif yang berlebihan dan memuakkan. Ingat pelajaran PMP/PPKn/PKn di tingkat SD?

"Apabila ada teman yang berbuat kesalahan, maka kita harus menasihatinya secara baik-baik."

Namun hingga titik muak tertentu, exhibitionist yang kita bahas dalam tulisan ini memiliki potensi untuk menjadi sangat akut, hingga cukup parah untuk dapat memiliki arti yang melebar seperti ini:

"Exhibitionism means the unwelcome exposure of the sex organs to others, usually strangers, in order to obtain some sexual or emotional satisfaction. This behavior is quite often compulsive. Most exhibitionist are males."

Source: Some Examples of Problematic Sexual. Magnus Hirschfeld archive for sexology. 17 September 2006.

Sangat menjijikkan, bukan?

Di titik inilah kita dapat menelurkan asumsi bahwa sang pelaku akan sangat sulit untuk disembuhkan.

Jadi?


Tetap jaga diri ya, teman-teman semuanya!

Imaji Atas Imajinasi

Aktivitas bermain yang paling menyenangkan adalah bermain-main dengan pikiran dan khayalan. Batasan kita hanyalah imajinasi yang merantai jauh sepanjang tidur dan sadar kita bisa menampungnya, sejauh kita mau.
Memang harus diakui bahwa beberapa batasan masih sering mencoba mengganggu kemesraan yang kita bentuk antara lamunan, kesadaran, pikiran, dan lowongnya ruang-ruang otak kita. Mau bukti? Aku tidak akan jauh-jauh memberikan sesuatu yang sulit, hanya bentuk pertanyaan simple saja. Seperti: “Coba kau bayangkan sebuah warna yang benar-benar baru, yang tidak pernah terpikirkan apalagi ditemukan sebelumnya, yang benar-benar di luar dari warna-warna yang selama penciptaan manusia sudah berhasil diketahui!”. Tidakkah itu mengusik imajinasi kita. Sejauh mana keliaran pikiran kita bisa menampung dan mengakomodasi berbagai pertanyaan-pertanyaan sejenis itu yang, untungnya, tidak kalah liar.
Memang sudah menjadi kharateristik pikiran manusia bahwa keabstrakan adalah fondasi utama yang membungkus tulang-tulang eksistensi nya. Yang mana keabstrakan itu sendiri serapuh tenangnya air danau yang tanpa riak tepat sebelum matahari mengintip hari dari balik cakrawala. Tenangnya air itu bagai rapuhnya imajinasi kita yang mudah sekali terpicu oleh pertanyaan-pertanyaan bodoh semacam pertanyaan tentang warna yang tadi kita bahas sebelumnya.
Sayangnya itu adalah dua sisi mata uang yang rumit. Pikiran adalah sesuatu yang sulit didefinisikan. Tanpa kerapuhan, pikiran dan imajinasi adalah nonsense. Karena kekakuan adalah milik sebuah bentuk. Bentuk itu adalah buah dari pikiran dan imajinasi yang diolah dengan tangan-tangan mulia sang pemilik imajinasi itu sendiri.
Betul, pikiran adalah rapuh, sedangkan bentuk adalah kaku. Bentuk adalah produk derivasi terbaik dari sebuah pemikiran yang ada, dari imajinasi yang terbentuk dalam sel-sel dalam otak kita. Tapi sejauh mana rapuhnya pikiran dan imajinasi itu sendiri, tidakkah kamu tahu batasannya? Batasannya bagiku sangat mudah dan jelas. Pernahkah kau bayangkan seorang Adolf Hitler bisa memiliki perasaan cinta pada seorang gadis? Ini adalah bentuk ironi terbaik bahwa sesuatu yang bisa kita asosiasikan dengan suatu pikiran jahat yang kaku dengan tembok-tembok ego yang melindunginya ternyata bisa bertindak terbalik 180 derajat untuk mencintai seorang gadis.
Aku senang bermain-main dengan imajinasi. Dan aku menikmati permainan itu. Aku menikmati kerapuhan dan liarnya alur pikiran yang mengalir, yang aku arahkan tanpa menggunakan batasan-batasan yang kaku. Aku selalu bermain dalam sadarku dan juga dalam lelapku. Dalam terpaan sang surya atau belaian lembut cahaya bulan purnama ketika ku terlelap. Karena itu selalu tentang aku. Selalu dalam alur duniaku tentang dunia ini.
Pada akhirnya harapanku cuma satu. Semoga aku bukan seorang pemimpi belaka.

Lingkaran Cita-cita

Apa yang membuatmu percaya pada masa depan?
Mimpi.
Apa yang membuatmu masih menjunjung mimpi itu kokoh di dalam benakmu?
Kepercayaan diri.
Apa yang menopangnya?
Perencanaan.
Apa yang membuatmu yakin?
Kapabilitas.
Apa yang menimbulkan kapabilitas dalam dirimu itu?
Dorongan untuk meraih sesuatu.
Apa itu?
Masa depan.

Jembatan Bambu Tipis


Jembatan bambu tipis. Dengan ngarai sungai nasib yang mengalir dengan deru ejekan yang memekakkan telinga sekaligus menghabisi kesabaran kami.
Begitulah aku menyebut tempat ku berpijak saat ini.
Bukan, bukan dalam arti harafiah atau dalam makna yang bersifat denotatif.
Jembatan ini adalah keadaan dimana aku berada sekarang.

Apabila kamu lebih muda dariku, silakan kamu tertawa.
Karena kamu belum merasakan apa yang kami, para hampir-pria-dewasa, alami dan rasakan di dalam keadaan ini.
Kami, atau setidaknya Aku, punya visi bagaimana dan dimana aku akan berada dalam lima, sepuluh, atau bahkan puluhan tahun mendatang. Itu adalah pandangan yang terlihat dengan menggunakan binokular yang tergatung di otak, tekad, dan anganku. Ya, pandangan yang aku lihat akan aku titi di penghujung jembatan ini.
Kamu tidak mengerti kan?
Ah ya, tunggu saja giliranmu. Tapi satu hal, jangan menyalib kecuali kamu memang lebih baik dariku. Karena aku tak suka disalib.

Apabila kamu lebih tua dariku, baiklah, silakan kamu juga tertawa.
Kamu mungkin punya pengalaman lebih banyak dariku. Kamu mungkin sudah ada di seberang lembah, sudah mendapatkan lorong jalan setapaknya masing-masing, atau mungkin sedang duduk dengan santainya sambil memandangi kami para hampir-pria-dewasa meniti jembatan ini dengan kepayahan.
Ya, kamu memang pantas mendapatkannya, aku menghargai itu dan aku tidak keberatan sama sekali dengan itu.
Toh kita akan sama-sama berkejar-kejaran setelah aku melewati fase ini dan kita berada di jalan setapak yang sama. Ya, mari kita bersaing secara sehat.
Tapi satu hal, mungkin selama aku di atas jembatan ini aku akan sering berteriak memanggil nama kalian hanya untuk meminta saran terbaik bagaimana aku menyebrangi sungai nasib ini.

Sungai nasib.
Ah betul sekali.
Aku tak ingin terpeleset atau bahkan sengaja menjatuhkan diri dan hanya meninggalkan jejak tak bermakna di atas jembatan yang kutinggalkan.
Aku tak ingin terjatuh ke dalam sungai nasib dan membiarkan diriku terbawa arus deras sungai ini hanya karena hal-hal lain yang sifatnya material.
Tak bisa kupungkiri bahwa materi adalah kebutuhan manusia. Tetapi setidaknya aku masih menjunjung idealisme yang aku tanamkan selama tiga setengah tahun pembekalan ku sebelum keberangkatan ini.
Toh idealisme ini bukannya tak bermateri.

Ini masa yang berat. Mungkin bagi sebagian orang, sungai nasib adalah jembatan bambu nya. Itu hak mereka, aku menghargainya.
Sama seperti mereka, aku harus segera sampai di seberang lembah dan berkejaran dengan kalian para manusia yag terlahir lebih tua.

Persiapan

Semua dimulai dari sebuah awalan. Bahkan bila awalan tersebut adalah sesuatu yang tidak terencana sekalipun.
Apa yang sudah dimulai bisa memiliki sebuah akhir. Tetapi bahkan bisa juga tidak. Mungkin apa yang belum bisa dikatakan berakhir itu justru itulah akhirnya. Karena terkadang apa yang tidak diketahui lebih baik tetap terjaga kerahasiaannya.
Awalan terbaik adalah yang terencana, akhir yang baik adalah skenario yang diharapkan.
Kita, manusia, selalu diajarkan untuk selalu membuat perencanaan di atas segala-galanya. Selalu diajarkan mengasah sebelum memotong, berpikir sebelum berbicara, berdandan sebelum tampil, dan....
hidup sebelum mati.

Narasi ini mungkin seperti ucapan seorang idiot yang berbicara kepada dirinya sendiri, tetapi ini adalah cara terbaikku untuk melihat refleksi diri saat ini.
Aku, dan mungkin juga kalian, seharusnya sudah mempersiapkan yang terbaik sebelum meninggalkan dunia ini kelak. Segala persiapan itu tergantung bagaimana kalian ingin dikenang kelak, tergantung bagaimana kalian ingin menghadapi awal dunia baru kelak, dan itu tergantung keinginan kalian masing-masing.
Aku tidak menyalahkan seorang penjahat yang memang bercita-cita untuk menjadi sahabat setan bagi orang-orang baik, toh bagi nya setan itu justru adalah teman terbaiknya. Adalah hak dia untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Bukankah justru kita yang menjadi pejahat apabila membatasi hak-haknya? Untungnya sebagian besar pelaku kejahatan tidak mencita-citakan dirinya seperti itu, jadi tidak masalah apabila tindakan represif diberlakukan kepadanya.
Ya benar, terkadang baik dan buruk hanya masalah persepsi.

Saat ini kita berada di umur kita masing-masing. Aku percaya belum ada kata terlambat untuk mempersiapkan semuanya sebelum kematian merenggut nafas kita kelak, tetapi lebih cepat lebih baik. Walaupun tergantung persepsi kita mau sampai umur berapa kita menganggap diri kita muda.
Ya, kuncinya adalah persiapan, dan kapan waktu kita akan benar-benar siap dalam mempersiapkan segalanya.

2011

Seribu alasan untuk membuat permusuhan. Sejuta impian satu pihak terkubur egoisme, menenggelamkan asa, meninggikan benci.

Benci?

Ah ya, kebencian memang tidak bisa diukur secara pasti. Sama abstrak nya dengan kebahagiaan. Namun sama nyatanya seperti tamparan gurat-gurat kasar kehidupan.

Seberapa pentingkah?

Aku yakin bukan hal yang penting untuk menyebut kepentingan atas kemunculan emosi bagi siapapun dia. Tapi bukannya bisa diabaikan. Aku sering merasa kesal, mungkin benci. Tapi aku juga pernah dibenci.
Perasaan bukanlah hal yang mudah diatur. Tetapi menyembunyikannya kadang merupakan obat terbaik.

Kuakui, emosi akan terpancing akibat bentuk pelatuk jiwa apapun. Kadang mudah dijelaskan, kadang seabstrak bauran udara.
Apa yg kubicarakan adalah tentang hiasan jiwa bagi dunia. Tak ada yg terlampau istimewa untuk tidak memilikinya, tak ada yg dilupakan oleh Tuhan untuk merasakan kedataran hidup.

Aku meminta maaf atas tebaran kebencian yang kuciptakan atas kalian, maupun tumpahan kecerobohan yang mengucilkan aku di mata kalian. Aku tetap menghargai dan menyayangi kalian, berharap di tahun yang baru ini kebencian adalah hal pertama yang kalian masukkan tong sampah.

Tak peduli seberapa dinginnya kita, seberapa sinisnya kita, peluh hati untuk memaafkan terus tertumpah menantikan keajaiban datang.

Antara Samudra, Lautan, Pelangi, dan Hidupku

Tulisan ini didedikasikan kepada salah seorang teman baik yang entah kenapa jalan cintanya tak pernah selancar tol cipularang

Aku yang terlanjur tenggelam di kedalaman.. Aku yang terlampau kehilangan sesuatu yang dapat kubanggakan.. dan aku yang tak pernah tau arah angin akan membawaku kemana.
Sempat suatu saat aku benar-benar merasa hancur dan lebih hina dibanding kutu-kutu di pedalaman kepala seseorang, dan lebih tidak berharga dibanding uang receh di kantong para kongomerat.
Sempat aku ingin memaki Tuhan mengeni nasibku. Pernah sedikit terlintas di benakku untuk menghujatNya dan menjauhiNya. Entah kenapa aku tak pernah bisa menghindari niat tersebut. setidaknya pada saat itu.
Sebelum aku merasa tenggelam lebih jauh, untungnya Tuhan memberikanku sebuah penyegaran bagi sanubariku yang telah lemah
Sesuatu tersebut mungkin akan kalian akan anggap remeh dan tidak terlalu penting bagi hidup kalian. Sesuatu yang akan kalian cerca dan hina sebagai bentuk kelemahan seorang lelaki. kalian tahuitu apa?
ya, sesuatu itu adalah seorang wanita.

Bagi kalian, wanita tersebut mungkin tak terlihat istimewa, namun bagiku dia adalah separuh dari alasanku untuk tetap merasa bahagia.
Bagi kalian, mungkin wanita tersebut adalah setangki air di pinggir sungai. bersih diantara keruhnya sungai yang mengalir. Namun bagiku dia adalah samudra luas di tepi padang pasir tandus kerontang. Begitu luas dan misterius dibanding keringnya gurun yang membentang. ya, aku ingin menyelaminya walaupun tangan dan kaki-kakiku takkan pernah cukup kuat untuk melakukannya.
Pernah suatu masa aku diberikan kesempatan untuk melakukannya. segala kebutuhan termasuk sepatu katak dan kacamata renangku telah siap di sampingku. Selain itu kemampuan renangku telah kupersiapkan dengan baik. Segala doa telah kupanjatkan kepadaNya dan hatiku telah kumantapkan sebelumnya.
Aku sudah mengumumkan kepada dunia bahwa aku akan melakukannya, mereka yang mengenalku pasti akan dan telah memberiku semangat. aku telah merasa yakin!
Tapi entah kenapa malam sebelum aku terjun tiba-tiba terjadi badai pasir di gurun tempatku berpijak. Semua persiapanku dihempaskan ke sisi lain bumi begitupun dengan niatku yang sudah mantap.
Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sudah terlanjut kehilangan semangat. Aku terdiam kaku dan hanya bisa menatap itu semua berlalu.
Semalaman aku merenung dan mencoba melupakan. Menyesali memang tak akan pernah berguna, tetapi apa yang akan kuperbuat apabila separuh dari semangatku enyah begitu saja.
Apa mungkin nasibku tak pernah seberuntung namaku?
Pasti butuh waktu lama untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja. dan mungkin sudah waktunya aku sadar, bahwa ini semua belum waktunya. Bagaikan sinaran pelangi yang memancar di atas gurunku setelah badai kemarin, masih banyak sekali alasan yang dapat kumiliki agar aku tetap bahagia.

Hidup ini bagaikan deretan tuts piano yang membentang. tuts hitam dan putih melambangkan dinamika kehidupan. Hanya dengan memainkannya dengan baik maka irama dan melodi yang indah akan kita dapatkan.

Selamat Pagi, Dunia!

Halo semuanya! apa kabar? senang rasanya bisa kembali melihat kalian lagi.
Walaupun tubuh dan ragaku masih tertahan di atas pulau kapuk ini, sungguh menyenangkan mendapati mataku masih dapat dibelai kehangatan mentari. setidaknya aku sedikit merasa terlindungi.
Kau tahu? Memulai hari memang bukanlah sesuatu yang berat, tetapi menjalaninya dengan baik jauh lebih sulit.
Beberapa hal mungkin akan menjadi batu sandungan, pernah atau pun tidak diprediksi sebelumnya.
Tetapi aku tidak merasa takut kok, aku sudah memiliki tujuan dan bahkan aku tidak membutuhkan 'teleskop' untuk mengetahui dimana tujuan itu berada sesungguhnya.
Tujuanku tidak hanya eksis hanya sampai ketika ak menutup mata kembali di malam berikutnya, tetapi kuharap aku sedang merancang dan merintis sebuah langkah yang membawaku kepada tujuan yang jauh lebih besar pada kala yang lebih panjang. 
Memang itu menjadikanku seperti sang pemimpi yang penuh angan dan bualan, tetapi satu hal yang membuatku tenang adalah ketika aku mengingat mimpiku semalam.
Ya, aku bermimpi aku menjadi seseorang yang kaya raya. dan dalam sekejap aku terbangun oleh entah sesuatu. Tetapi aku tidak pernah merasa kesal, karena aku tahu bahwa ketika aku telah dibangunkan dari tidurku, sebenarnya aku sudah menjadi setengah kaya.

I Want to Waft My Lampion


this story arise everytime, before i start my day.. before i close my eyes on my soft bed
this story tell about a poor boy who has been dreaming as high as the stars on the sky
a boy full of ambitions and ideals..

at a another point of view, indeed, that boy might have been locating himself on the right track
a straight track but sometimes with a steep uphill and down.
it's very stressful for him.. but.. the boy always knew what must be done to anticipate that problem
he simply must adjust its speed to carefully follow the rhythm and conditions.
but of course, it's not that easy
many obstacles confronting.. and he can only hope that his ambition always be the one who will make it survive..
haha..poor guy!

I realize it is not a good thing when i try to mix fiction and reality
but what if all of them form a semblance of precision?

i've told you before. this ambition comes everyday
yeah, on the sidelines of my busyness
when i open my eyes.. or when i was ready to close my eyes to sleep
easy conclusions from the story above is depend on your interpretation.
but for me? i want to waft my lampion..

Mengapa Penerapan New Normal Policy Bukan Ide Yang (Terlalu) Buruk

Judul di atas mungkin terdengar terlalu bombastis dan juga kontroversial. Banyak yang akan mengerenyitkan dahi dan berpikir bahwa ini adal...